Kisah Cinta Romantis Ali dan
Fatimah
Written By Phen Efendi on 28/04/13 | 23.23
Ada rahasia terdalam di hati Ali yang tak
dikisahkannya pada siapapun. Fathimah.
Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang
Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh
memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya,
kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah
gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya
pulang dengan luka memercik darah dan
kepala yang dilumur isi perut unta. Ia
bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh
cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka
untuk menghentikan darah ayahnya.
Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan
hati menangis. Muhammad ibn 'Abdullah Sang
Tepercaya tak layak diperlakukan demikian
oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit.
Gagah ia berjalan menuju Ka'bah. Di sana,
para pemuka Quraisy yang semula saling
tertawa membanggakan tindakannya pada
Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah
menghardik mereka dan seolah waktu
berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang
itu kesempatan untuk menimpali.
Mengagumkan!
Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut
cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika
suatu hari mendengar kabar yang
mengejutkan. Fathimah dilamar seorang
lelaki yang paling akrab dan paling dekat
kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang
membela Islam dengan harta dan jiwa sejak
awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan
akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash
Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu
"Allah mengujiku rupanya", begitu batin ’Ali.
Ia merasa diuji karena merasa apalah ia
dibanding Abu Bakar. Kedudukan di sisi Nabi?
Abu Bakar lebih utama, mungkin justru
karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti
'Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada
Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah
bagaimana Abu Bakar menjadi kawan
perjalanan Nabi dalam hijrah sementara 'Ali
bertugas menggantikan beliau untuk menanti
maut di ranjangnya.
Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr
berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh
bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk
Islam karena sentuhan Abu Bakar; 'Utsman,
'Abdurrahman ibn 'Auf, Thalhah, Zubair, Sa'd
ibn Abi Waqqash, Mush'ab.. Ini yang tak
mungkin dilakukan kanak-kanak kurang
pergaulan seperti 'Ali.
Lihatlah berapa banyak budak Muslim yang
dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu
Bakar; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir,
'Abdullah ibn Mas'ud.. Dan siapa budak yang
dibebaskan 'Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakar
sang saudagar, insya Allah lebih bisa
membahagiakan Fathimah.
'Ali hanya pemuda miskin dari keluarga
miskin. "Inilah persaudaraan dan cinta",
gumam 'Ali.
"Aku mengutamakan Abu Bakar atas diriku,
aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah
atas cintaku."
Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia
mengambil kesempatan atau mempersilakan.
Ia adalah keberanian, atau pengorbanan
Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah
menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya
yang sempat layu.
Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus
menjaga semangatnya untuk mempersiapkan
diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir.
Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar
Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah
dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk
Islamnya membuat kaum Muslimin berani
tegak mengangkat muka, seorang laki-laki
yang membuat syaithan berlari takut dan
musuh- musuh Allah bertekuk lutut.
'Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang
pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga
datang melamar Fathimah. 'Umar memang
masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun
setelah 'Ali dan Abu Bakar. Tapi siapa yang
menyangsikan ketulusannya? Siapa yang
menyangsikan kecerdasannya untuk
mengejar pemahaman? Siapa yang
menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang
hanya 'Umar dan Hamzah yang mampu
memberikannya pada kaum muslimin? Dan
lebih dari itu, 'Ali mendengar sendiri betapa
seringnya Nabi berkata, "Aku datang
bersama Abu Bakar dan 'Umar, aku keluar
bersama Abu Bakr dan 'Umar, aku masuk
bersama Abu Bakr dan 'Umar.."
Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di
sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan
bagaimana dia berhijrah dan bagaimana
'Umar melakukannya. 'Ali menyusul sang Nabi
dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran
musuh yang frustasi karena tak menemukan
beliau Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam. Maka ia
hanya berani berjalan di kelam malam.
Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-
bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan
bersembunyi.
'Umar telah berangkat sebelumnya. Ia
thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka'bah.
"Wahai Quraisy", katanya. "Hari ini putera Al
Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang
ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi
yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti,
silakan hadang 'Umar di balik bukit ini!" 'Umar
adalah lelaki pemberani. 'Ali, sekali lagi
sadar. Dinilai dari semua segi dalam
pandangan orang banyak, dia pemuda yang
belum siap menikah. Apalagi menikahi
Fathimah binti Rasulillah! Tidak. 'Umar jauh
lebih layak. Dan 'Ali ridha.
Cinta tak pernah meminta untuk menanti
Ia mengambil kesempatan
Itulah keberanian
Atau mempersilakan
Yang ini pengorbanan
Maka 'Ali bingung ketika kabar itu meruyak.
Lamaran 'Umar juga ditolak.
Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki
Nabi? Yang seperti 'Utsman sang miliarderkah
yang telah menikahi Ruqayyah binti
Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn
Rabi'kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab
binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah
itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan
diri.
Di antara Muhajirin hanya 'Abdurrahman ibn
'Auf yang setara dengan mereka. Atau justru
Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar
untuk mengeratkan kekerabatan dengan
mereka? Sa'd ibn Mu'adz kah, sang pemimpin
Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d
ibn 'Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah
penuh semangat itu?
"Mengapa bukan engkau yang mencoba
kawan?", kalimat teman-teman Ansharnya
itu membangunkan lamunan. "Mengapa
engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku
punya firasat, engkaulah yang ditunggu-
tunggu Baginda Nabi.. "
"Aku?", tanyanya tak yakin.
"Ya. Engkau wahai saudaraku!"
"Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa
kuandalkan?"
"Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah
menolongmu!"
'Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan
memberanikan diri, disampaikannya
keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya,
menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada
yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada
satu set baju besi di sana ditambah
persediaan tepung kasar untuk makannya.
Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun
untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta
Fathimah menantikannya di batas waktu
hingga ia siap? Itu sangat kekanakan.
Usianya telah berkepala dua sekarang.
"Engkau pemuda sejati wahai 'Ali!", begitu
nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap
bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda
yang siap memikul resiko atas pilihan-
pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah
Maha Kaya. Lamarannya berjawab, "Ahlan wa
sahlan!" Kata itu meluncur tenang bersama
senyum Sang Nabi.
Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan
selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan
sebagai isyarat penerimaan atau penolakan.
Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk
menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia
siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh
lebih ringan daripada menanggung beban
tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi
menyimpannya dalam hati sebagai bahtera
tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.
"Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana
lamaranmu?"
"Entahlah.."
"Apa maksudmu?"
"Menurut kalian apakah 'Ahlan wa Sahlan'
berarti sebuah jawaban!"
"Dasar tolol! Tolol!", kata mereka,
"Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja
sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan
saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau
mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-
duanya berarti ya !"
Dan 'Ali pun menikahi Fathimah. Dengan
menggadaikan baju besinya. Dengan rumah
yang semula ingin disumbangkan ke kawan-
kawannya tapi Nabi berkeras agar ia
membayar cicilannya. Itu hutang.
Dengan keberanian untuk mengorbankan
cintanya bagi Abu Bakr, 'Umar, dan
Fathimah. Dengan keberanian untuk
menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan
nanti-nanti.
'Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran
kalau pemuda Arab memiliki yel, "Laa fatan
illa 'Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!"
Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang
mempertemukan cinta dan semua perasaan
dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta
tak pernah meminta untuk menanti. Seperti
'Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil
kesempatan. Yang pertama adalah
pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.
Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan
oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat
dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka
menikah) Fathimah berkata kepada 'Ali,
"Maafkan aku, karena sebelum menikah
denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta
pada seorang pemuda"
'Ali terkejut dan berkata, "kalau begitu
mengapa engkau mau manikah denganku? dan
Siapakah pemuda itu?"
Sambil tersenyum Fathimah berkata, "Ya,
karena pemuda itu adalah Dirimu" ini
merupakan sisi ROMANTIS dari hubungan
mereka berdua.
Kemudian Nabi saw bersabda: "Sesungguhnya
Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk
menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan
Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah
sesungguhnya aku telah menikahkannya
dengan maskawin empat ratus Fidhdhah
(dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima)
mahar tersebut."
Kemudian Rasulullah saw. mendoakan
keduanya:
"Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan
kalian berdua, membahagiakan kesungguhan
kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan
mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan
yang banyak." (kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah
2:183, bab4)
Kisah Romantis ini diambil dari buku Jalan
Cinta Para Pejuang, Salim A.Fillah
chapter aslinya berjudul "Mencintai sejantan
'Ali"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar